Bismillah…

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh…

Langsung saja.

Bagi temen-temen yang pernah berdekatan/bersinggungan langsung hidupnya

dengan saya, misalnya hidup di lingkungan Sistem Informasi-ITS atau

bahkan di ITS itu sendiri, pasti salah satu dari kalian ada yang pernah

di panggil “Antum” oleh salah satu orang yang ada di sana.

Weits, tunggu dulu. Kalau yang dipanggil itu mas Adhilaras* g masalah.๐Ÿ™‚

Tapi kalo yang dipanggil itu saya**, purnama, atau bahkan sonif, apakah

pemanggilan itu relevan dan signifikan ?? [Tanya Kenapa ?]

Oke. Mungkin ada yang bingung maksud saya apaan?. (Aku dewe yo ngawur

kok. Wakakakakak!! Kidding jeh ;p)

Begini teman2…

Antum adalah sebuah kalimat pemanggilan terhadap seseorang dalam bahasa

Arab. Dan Antum sendiri secara harfiah bermakna Kamu sekalian laki-laki

(Jamak). Nah, sering saya bahkan kita dengar, kalau kita, seorang tunggal

(Saya dan Anda), dipanggil dengan sebutan itu oleh seseorang. Padahal

(Misalkan saya), adalah seorang yang tunggal dan bukan jamak. Tapi knp

kok hal yang salah kaprah tersebut dilestarikan. Saya, Anda bahkan kita,

pasti bingung bukan ?? (Maksud loh???)

 

Okeh…

Sejenak akan saya paparkan sedikit saja mengenai kata ganti orang dalam

tata bahasa Arab.

Dalam tata bahasa Arab, kata ganti orang disebut juga dengan “Isim

Dhomir”. Mas kiki, jangan muntah dulu klo denger bahasa/istilah Arab.

yang ini cuma pergantian bahasa aja kok ;p

Secara Qaidah, sekali lagi, secara Qaidah, ada 14 isim Dhomir yang

dikenal dalam bahasa Arab :

kata ganti orang ketiga laki-laki

ู‡ููˆูŽ dia

ู‡ูู…ูŽุง mereka berdua

ู‡ูู…ู’ mereka

 

kata ganti orang ketiga perempuan

ู‡ููŠูŽ dia

ู‡ูู…ูŽุง mereka berdua

ู‡ูู†ู‘ูŽ mereka

 

kata ganti orang kedua laki-laki

ุงูŽู†ู’ุชูŽ kamu

ุงูŽู†ู’ุชูู…ูŽุง kamu berdua

ุงูŽู†ู’ุชูู…ู’ kalian

 

kata ganti orang kedua perempuan

ุงูŽู†ู’ุชู kamu

ุงูŽู†ู’ุชูู…ูŽุง kalian berdua

ุงูŽู†ู’ุชูู†ู‘ูŽ kalian

 

kata ganti orang pertama

ุงูŽู†ูŽุง saya

ู†ูŽุญู’ู†ู kami

 

Nah sekarang, bagaimana dengan jawaban seseorang yang mengatakan bahwa,

pemanggilan antum terhadap satu orang itu merupakan “penghormatan”.

Penghormatan yang bagaimana?? Aku kok bingung ya… Gini lo, Qaidahnya

aja dah jelas, dan pemanggilan seperti itupun agak menyimpang atau tidak

merujuk (Terima Kasih buat Didit T.Lingkungan ITS atas kata “MERUJUK”nya

;p) pada Qaidah yang ada. Lantas, kenapa kok dipertahankan.

Coba anda pergi ke Arab sana dan coba panggillah saudara anda disana

dengan sebutan “Antum”, Pasti Anda “DICUEKIN”. Ak belum mbuktiin langsung

sih, cuma aku dapat cerita dari kawan ku yang pernah kesana.

Dan aku juga dah pernah nanya ke Ustadzku kalo memang itulah Qaidah dari

Isim Dhomir yang 14 tadi.

 

Mungkin di Indonesia, itu adalah sebuah pemanggilan yang KONVENSIONAL.

Jadinya ya sah-sah saja kalau memang orang yang diajak bicara paham akan

hal itu. Tapi jujur, saat pertama kali aku masuk di ITS, aku pernah

dipanggil “ANTUM”. Dan reaksiku pun CUEK. Karena g tau dia manggil

sapa!!!

 

Tapi g usah diperdebatkan lagi lah akan hal ini, yang penting sama-sama

paham akan KONVENSI-nya๐Ÿ™‚

Seperti judulnya, ini cuma penjelasan g penting dari seorang yang ingin

meretas jalan hidupnya untuk menjadi seorang Ulama’. (Masya ALLAH…Mana

mungkin bisa!!!).

 

 

Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh…

 

Keterangan :

*Adhilaras = Kawan Karib dengan bobot > 80 kg. Sowri dhi???

**Saya = Manusia dengan bobot โ‰ค 65 kg.

 

 

“Hidup itu bukanlah dari kita membuka mata sampai menutup mata lagi di setiap harinya.

Tapi, Hidup itu adalah bagaimana kita bisa lebih baik dari kemarin dan bisa memberikan MANFAAT/FAEDAH bagi orang lain.”