Caci saja diriku !
Maki saja kejujuranku !
Habis sudah sinar ini kau leburkan..
Semudah kau balik tanganmu
Diri ini hina kau rajam dengan bisu..
Diam karena benci,
ataukah diam menjaga hati !?

kubeli bencimu dengan maaf, cukupkah !?
kubeli lupamu dengan maaf, cukupkah !?
Samar, bias, bercandalah dengan dia..
Ceritakan padaku tentangnya
kan kubalas beribu maaf untuknya…

Jalan kita terpaksa berbeda
Tak kuasa ku menyeka airmata bunda..
Terima kasih kau pilih dirinya
Cintailah dia Fulana !!

Lupakan aku,
kembali pada-Nya !
Lupakan aku,
menikahlah dengannya !

– no_more –

*Note:
Tulisan diatas saya dedikasikan untuk sahabat karib saya dari kecil, sahabat semenjak di pesantren dulu sampe sekarang. Sahabat saya sedang ada masalah yang pelik, masalah tentang hidupnya dengan hidup seorang Fulana (baca: wanita). Subhanallah, semoga kau tetap tegar kawan !! Aamiin !?

Kondisi terakhir sahabat saya,
Kondisi ‘keseriusan’ : SERIUS
Kondisi ‘kesiapan’ : BELUM SIAP (dg byk faktor)
— Semoga si Fulana tidak membaca tulisan ini —