Assalamu’alaykum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Alhamdulillah, wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosulillah, wa’alaa aalihii wa ashaabihii wa man tabi’ahum bi ihsanin ilaa yaumid-diin.

Sahabat pembaca sekalian. Kali ini saya ingin membagi sebuah tulisan (nasihat) dari salah satu ulama yang berasal dari Arab Saudi bernama Syaikh Muhammad bin Sholih bin ‘Utsaimin (atau lebih kita kenal sebagai Syaikh ‘Utsaimin), mengenai permasalahan umat (khususnya bagi para pemuda yang ingin menikah) yakni Tingginya Mahar.

Berikut akan kami tulis nasihat Syaikh ‘Utsaimin tersebut:

***mulai***

الحمد لله الواحد الاحد. أشهد أن لا اله الا الله وأشهد أن محمدا رسول الله. اللهم صل على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Ada satu persoalan sangat penting dalam masyarakat kita. Kita mendengar semua orang mengeluhkan persoalan ini ketika menyebutnya dan sangat mengharapkan supaya bisa menemukan solusinya, yaitu masalah semakin tingginya mahar dikalangan ummat, serta dijadikannya mahar sebagai kebanggaan.

Hari ini, sebagian orang semakin menambah tinggi mahar dan memasukkan hal-hal baru di dalam mahar yang semakin menjadikannya sebagai problem berat dan sulit, sehingga hari ini mahar merupakan sesuatu yang sulit atau bahkan tidak bisa ditunaikan oleh kebanyakan orang.

Anda dapati banyak orang diawal kehidupannya dan di awal masa mudanya harus menempuh kehidupan berat, tetapi nyaris tidak bisa memiliki kekayaan yang cukup untuk memperoleh istri yang akan membantunya menjaga kesucian diri. Semua ini disebabkan semakin membumbungnya mahar tanpa alasan yang benar. Ini menghambat pernikahan yang diperintahkan oleh Alloh dan Rosul-Nya, serta bertentangan dengan tuntunan syariat. Sebab syariat mengajarkan kita supaya meringankan mahar. Nabi SAW bersabda:

اِنَّ أَعْظَمَ النِّكَاحِ بَرَكَةََ أيْسَرُهُ مُؤْنَةََ

Pernikahan yang paling besar berkahnya adalah yang paling ringan biayanya.

Pernah terjadi seorang wanita menikah dengan mahar sepasang sandal, lantas Nabi SAW membolehkan pernikahannya. Beliau juga pernah bersabda kepada seorang pria, “Carilah (mahar) walau hanya cincin besi.” Lantas, laki-laki itu pun mencari mahar, tetapi ia tidak mendapati sesuatu. Nabi SAW pun bertanya, “Apakah kamu hafal sebagian Al-Quran?” Laki-laki itu menjawab, “Ya, yaitu surat itu dan itu.” Maka, Nabi SAW bersabda, “Kunikahkan kamu kepada wanita itu dengan mahar Al-Quran yang kamu hafal itu.”

Amirul Mukminin, ‘Umar RA pernah berkata, “Janganlah kalian meninggikan mahar wanita. Jika mahar termasuk kemuliaan di dunia atau ketakwaan di akhirat, tentulah Nabi SAW paling pertama melaksanakannya.” (HR. Khomsah dan dishohihkan oleh At-Tirmidzi)

Wahai anda yang mampu! Janganlah meninggikan mahar dan janganlah berbangga-bangga dengan tingginya mahar, karena di dalam masyarakat ini ada saudara-saudaramu yang tidak mampu berkompetisi denganmu. Maka yang lebih utama adalah Anda memberikan mahar yang ringan, dalam rangka mengikuti ajaran syariat, meraih berkah pernikahan, dan sebagai solidaritas kepada saudara-saudara Anda yang tidak mampu membayar mahar sebanyak yang anda berikan. Jika anda sudah memasuki dunia rumah tangga, silakan anda memberi istri anda itu harta sebanyak apapun yang anda mau.

Bila kita hendak memudahkan persoalan ini dan mengurangi beban tingginya mahar dengan cara menunda pelunasan sebagian mahar, yaitu mendahulukan pembayaran sebagian mahar sebatas yang diperlukan untuk biaya pernikahan dan menunda sisanya sebagai hutang suami, maka ini dibolehkan dan bagus. Ini akan memudahkan suami dan memberikan kemaslahatan bagi istri.

Karena itu saudara-saudara, semoga Alloh SWT melimpahkan kasih sayang kepada Anda semua, lihatlah persoalan ini dengan jernih. Janganlah menjadikan mahar sebagai sarana kebanggaan dan perlombaan. Mudahkanlah, semoga Alloh SWT pun memudahkan anda semua.

***selesai***

Demikian nasihat Syaikh ‘Utsaimin yang bisa kami bagi. Semoga bermanfaat bagi yang membacanya. Amin.

Sumber: Kumpulan Khutbah Pilihan Syaikh ‘Utsaimin (penerbit Al-Qowam)