Assalamu’alaykum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Alhamdulillah, wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosulillah, wa’alaa aalihii wa ashaabihii wa man tabi’ahum bi ihsanin ilaa yaumid-diin.

Sahabat pembaca sekalian. Ada diantara masyarakat kita yang mengalami permasalahan sebelum melangkah dalam pernikahan.  Kali ini saya ingin membagi sebuah tulisan (nasihat) dari salah satu ulama yang berasal dari Arab Saudi bernama Syaikh Muhammad bin Sholih bin ‘Utsaimin (atau lebih kita kenal sebagai Syaikh ‘Utsaimin), mengenai permasalahan umat yakni Larangan Para Wali dalam menerima lamaran untuk anaknya.

Nasihat tersebut kami tuliskan sebagai berikut:

***mulai***

الحمد لله الواحد الاحد. أشهد أن لا اله الا الله وأشهد أن محمدا رسول الله. اللهم صل على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Adapun salah satu aspek yang menjadi problem sebelum pernikahan adalah keengganan sebagian wali dalam menerima lamaran. Sebagian wali tidak mau menikahkan wanita yang dalam perwaliannya, dan ini tidak boleh apabila yang melamar adalah pria sekufu (seiman) dan disukai oleh wanita yang dilamar. Karena Alloh Subhanahu wa ta’ala berfirman tentang wanita-wanita yang diceraikan suaminya, lantas suaminya ingin menikahinya kembali setelah sempurnanya masa iddah (sebab masih dicintai tadi):

Surah Al-Baqarah (2) : 232

Surah Al-Baqarah (2) : 232

Nabi bersabda,

“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah! Jika tidak kalian lakukan, niscaya terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rosululloh, sekalipun pada dirinya …?” Beliau bersabda, “Jika datang kepada kalian orang yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia!” (tiga kali)

Pelarangan wanita menikah dengan pria yang sekufu dengannya, mengandung tiga kejahatan:

  1. Kejahatan para wali terhadap dirinya sendiri dengan bermaksiat kepada Alloh dan Rosul-Nya.
  2. Kejahatan terhadap wanita, karena ia telah dilarang menikah dengan pria yang sekufu dan dicintainya.
  3. Kejahatan terhadap pria yang melamar, karena ia dihalangi dari haknya yang seharusnya diberikan kepadanya berdasarkan perinta Penetap Syariat (yakni Alloh ‘azza wa jalla)

Jika seorang wali enggan menikahkan seorang wanita dengan pria sekufu yang dicintainya, maka perwaliannya gugur. Perwalian beralih kepada keluarga lain yang lebih berhak sesudahnya, sebagaimana dinyatakan oleh para ulama ~ radhiyallohu ta’alaa ‘anhum ~. Mereka mengatakan bahwa jika seorang wali melakukan tindakan ini, ia menjadi fasik, kurang iman dan agamanya. Sampai-sampai banyak ulama yang mengatakan bahwa kesaksiannya tidak diterima, kepemimpinannya, perwaliannya menjadi tidak sah.

karena itu bertakwalah kepada Alloh, wahai kaum muslimin! Bertakwalah kepada Alloh, wahai para wali! Nikahkanlah pria yang anda ridhoi agama dan akhlaknya. Janganlah menghalangi wanita untuk menikah, karena hal itu merampas hak pria dan wanita, menghilangkan kemaslahatan pernikahan, serta menyebarluaskan kerusakan.

Jika putra-putra kita tidak bisa menikah dengan putri-putri kita, maka dengan siapa mereka akan menikah? Jika kita tidak menikahkan putri-putri kita dengan putra-putra kita, maka dengan siapa kita akan menikahkan mereka? Apakah anda rela jika putra-putra kita menikah dengan wanita-wanita asing yang jauh dari lingkungan, tradisi, dan bahasa kita, sehingga akan terjadi perubahan lingkungan, tradisi dan bahasa karena pengaruh mereka? Apakah anda suka putri-putri kita hidup sendiri tanpa suami yang bisa membantu mereka agar menjaga kehormatan diri dan melahirkan anak-anak, penghibur hati mereka?

Sungguh, putra-putra kita harus menikah dengan putri-putri kita, tetapi kita harus saling menolong untuk memudahkan jalan mereka, dengan niat ikhlas kepada Alloh dan Rosul-Nya. Sesungguhnya seluruh kebaikan itu terletak dalam ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya. Banyak orang enggan menikahkan wanita yang dalam perwalian mereka semata-mata ingin memperoleh puing-puing kenikmatan dunia, lantas mereka pun akhirnya menanggung kerugian dan penyesalan.

***selesai***

Demikian artikel yang bisa kami bagi. Semoga menjadi manfaat bagi semua pembaca. Amin.

Sumber: Kumpulan Khutbah Pilihan Syaikh ‘Utsaimin (penerbit Al-Qowam)